Minggu, 04 November 2012

Lafadz atau ucapan syukur جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا


Sering kita ucapkan kalimat جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا artinya "semoga Alloh membalas anda dengan kebaikan" atau kalau pada wanita dari lafadz jazaaka menjadi jazaaki dan kalau orangnya banyakjazaakumullohu khoiroo(n).

Dari Usamah bin Zaid berkata, Rosululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang diberikan suatu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengucapkanjazaakalloohu khoiroo(n)  berarti dia telah sempurna dalam memuji.” HR. At-Tirmidzi, no. 2035, Abu 'Isya (at-Tirmidzi) berkata : Hasan Jayyid Ghorib

Dan sabda Rosululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam:

مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ فَإِنَّ مَنْ أَثْنَى فَقَدْ شَكَرَ

وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ

“Siapa yang diberi pemberian maka hendaklah dia membalasnya dengan itu pula. Kalau tidak maka dengan memuji, sebab dengan memuji berarti telah berterimakasih dan siapa yang menyembunyikan (kebaikan orang padanya) berarti dia telah kufur nikmat.” HR. At-Tirmidzi, no. 2034

Berterimakasih kepada sesama manusia merupakan salah satu bentuk syukur atas nikmat Alloh, sebagaimana dalam hadits dari Abu Huroiroh bahwa Rosululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

”Tidak dinamakan bersyukur kepada Alloh bagi siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia.”HR. Abu Daud, no. 4811, At Tirmidzi no. 1954, Albani: shohih

Hadits ini mengandung makna, orang yang kebiasaannya mengingkari nikmat dari manusia, maka juga akan menjadi tabiatnya mengingkari nikmat Alloh.

Alloh tidak menerima syukur dari seorang hamba kalau si hamba itu tidak pandai bersyukur dengan berterimakasih atas kebaikan orang lain, karena keduanya saling berhubungan.

Hubungan hamba kepada tuhanNya (Alloh) dan hamba kepada manusia
Semoga bermanfaat

Dimangsa oleh Singa Jantan



Bedah Al-Qurthubi
Pembaca pasti banyak yang pernah melihat singa. Binatang buas ini terkadang memangsa manusia. Qurthubi menulis, “Mantan putra menantu nabi yang bernama Utbah, pernah bersumpah akan mencaci maki nabi SAW dan berakhir dengan disergap dan dimangsa singa jantan: تفسير القرطبي - (ج 17 / ص 83).”
عن عروة ابن الزبير رضي الله عنهما أن عتبة ابن أبي لهب وكان تحته بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم أراد الخروج إلى الشام فقال: لآتين محمدا فلا وذينه، فأتاه فقال: يا محمد هو كافر بالنجم إذا هوى، وبالذي دنا فتدلى ثم تفل في وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم، ورد عليه ابنته وطلقها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (اللهم سلط عليه كلبا من كلابك) وكان أبو طالب حاضرا فوجم لها وقال: ما كان أغناك يا بن أخي عن هذه الدعوة، فرجع عتبة إلى أبيه فأخبره، ثم خرجوا إلى الشام، فنزلوا منزلا، فأشرف عليهم راهب من الدير فقال لهم: إن هذه أرض مسبعة فقال أبو لهب لاصحابه: أغيثونا يا معشر قريش هذه الليلة ! فإني أخاف على ابني من دعوة محمد، فجمعوا جمالهم وأناخوها حولهم، وأحدقوا بعتبة، فجاء الاسد يتشمم وجوههم حتى ضرب عتبة فقتله.

Artinya:
Dari Urwah ibnu Azzubair (عروة ابن الزبير) RA: “Sesunguhnya Utbah bin Abi Lahab (عتبة ابن أبي لهب) yang pernah memperistri putri Rasulillah SAW, pernah akan pergi menuju Syam. Sebelum pergi, dia berkata ‘niscaya saya akan datang untuk mencaci-maki Muhammad!’. Dia datang dan berkata ‘ya Muhamad! Dia mengkufuri annajmi idzaa hawa (artinya bintang ketika turun, namun maksudnya, nabi SAW turun dari mikroj dari langit). Dan tentang yang danaa fatadallaa (artinya mendekat untuk meraih. Maksudnya Jibril AS mendekat untuk meraih nabi SAW)’. Lalu meludahi wajah Rasulillah SAW, mengembalikan, dan mentalak putri Rasulillah SAW.
Rasulillah SAW berdoa ‘ya Allah! Suruhlah sebagian dari anjing-anjing-Mu agar menyerang dia!’. Abu Lahab yang saat itu berada di rumah, terkejut dengan mata melotot, karena tahu mengenai doa tersebut. Dan berkata ‘apa yang akan menghalang-halangi doa dia SAW atasmu ini?’. Utbah kembali pada ayahnya untuk menjelaskan mengenai dirinya yang telah mencaci-maki hingga nabi SAW mendoakan jelek dirinya.
Lalu Utbah dan rombongannya pergi ke-Syam. Mereka berhenti di suatu tempat. Tiba-tiba seorang rahib muncul dari biaranya untuk berkata ‘di sini tempat binatang-binatang buas!’. Abu Lahab berkata ‘hai keluarga Quraisy! Jagalah kami semalam ini! Saya takut doa Muhammad atas anaku menjadi kenyataan!’.
Rombongan mengumpulkan unta-unta mereka untuk didekamkan mengelilingi keluarga Abu Lahab. Yang mereka jaga dengan ketat adalah Utbah. Tiba-tiba singa jantan datang untuk mencium wajah-wajah mereka. (Mereka makin ketakutan saat melihat) Utbah digigit dan diserang oleh singa jantan tersebut, hingga tewas.”

Ledakan Tangisan Para Sahabat


Di hari yang indah itu, Rasulillah SAW terperanjat oleh Wahyu yang disampaikan oleh Jibril AS:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا [النصر/1-3].
Artinya:
Ketika pertolongan Allah dan kemenangan telah datang. Dan kau telah melihat manusia masuk kedalam Agama-Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah untuk memuji Tuhanu dan istighfarlah! Sungguh Dia Maha memberi tobat.
Rasulullah bertanya, “Berarti sebentar lagi saya akan wafat?.”
Jibril menjawab, “Namun akhirat niscaya lebih baik untukmu daripada dunia (وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى).”
Rasulullah perintah pada Bilal, “Kumpulkan orang-orang agar sholat berjamaah!.”
Bilal berteriak, “Assholatu jamiah (الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ)!.”
Tak lama kemudian para sahabat Rasulillah SAW datang ke Masjid untuk mengikuti sholat berjamaah.

Setelah sholat selesai, Rasulillah berdiri untuk menyampaikan khutbah yang membuat semua hadirin lebih dari terperangah. Bahkan semua hadirin menagis karena perasaan mereka kacau. Mereka tak sanggup ditinggalkan untuk selamanya menghadap yang Maha Kuasa, oleh Rasulullah SAW.
Sabda nabi SAW mengejutkan mereka, “Bagaimanakah saya di kalangan kalian, selama ini menurut kalian?.”
Jawaban mereka ricuh bersau-sautan. Intinya mereka berkata, “Semoga Allah membalas kebaikan pada nabi SAW yang telah berjasa pada kami. Sungguh Baginda telah menyayang kami seperti seorang ayah menyayang pada putranya. Terkadang seperti kakak penyayang yang melindungi adiknya. Baginda telah menyampaikan amanat-amanat dan Wahyu Tuhan pada kami. Juga telah mengajak menuju Jalan Tuhan Baginda, dengan hikmat dan nasehat memikat. Semoga Allah memberi balasan paling utama pada nabi SAW yang telah berjasa besar pada umatnya.”
Hadirin terperanjat oleh sabda nabi SAW, “Muslimiin semuanya! Demi Allah, dan bertumpu pada hak saya atas kalian; siapapun kalian yang pernah teraniaya oleh saya, saya minta agar mengqisos saya, mumpung belum ditegakkan hukum Qisos Hari Kiamat!.”
Karena sabda tersebut diulang-ulang, Ukasyah bin Michshon berdiri untuk berjalan dan menyeberangi hadirin yang duduk didepannya. Di depan nabi SAW dia berkata, “Fidaka Abi waummi (فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي/Tebusan Baginda ayah dan ibu saya).[1] Kalau Baginda tadi minta kami tidak hanya sekali atau dua kali, niscaya saya tidak datang ke hadirat Baginda. Saya pernah berperang bersama Baginda. Ketika kita telah menang, dan telah berpaling untuk pulang; unta saya berjalan sejajar dengan unta Baginda. Sontak saya turun dari unta untuk mendekat untuk mencium paha Baginda. Sontak Baginda mengangkat sebilah pelepah kurma untuk memukul lempeng saya. Saya tidak tahu apakah saat itu Baginda sengaja memukul saya, ataukah sebetulnya bertujuan memukul unta Baginda?.”
Rasulullah SAW bersabda, “Ya Ukasyah! Saya memperlindungkan dirimu dengan kehalalan Allah, dari kesengajaan Rasulilah SAW memukul kau. Hai Bilal! Pergilah ke rumah Fathimah untuk mengambil sebilah pelepah kurma dibawa kemari!.”

Fathimah RA bertanya, “Sebilah pelepah kurma ini akan dipergunakan oleh ayah untuk apa? Padahal ini bukan hari haji dan bukan hari perang?.”
Bilal menjawab, “Ya Fathimah! Betapa kau lupa pada akhlaq ayah kau yang sangat agung? Sungguh Rasulullah SAW sedang berpamitan pada para sahabatnya, akan segera mininggalkan dunia. Beliau minta agar dirinya diqisos.”
Fathimah RA terkejut dan bertanya, “Ya Bilal! Siapa yang tega mengqisos Rasulillah SAW? Bilal! Kalau begitu katakan pada Chasan (الْحَسَنُ) dan Chusain (الْحُسَيْن) agar menghadapi lelaki yang akan mengqisos Rasulillah SAW. Lelaki itu agar mengqisos mereka berdua saja!. Chasan dan Chusain jangan membiarkan lelaki itu mengqisos Rasulillah SAW!.”

Bilal RA masuk Masjid untuk menyerahkan sebilah pelepah kurma pada Rasulillah SAW. Rasulillah SAW menyerahkan pelepah kurma pada Ukasyah RA. Abu Bakr dan Umar RA terperangah lalu cepat-cepat berdiri dan berkata, “Hai Ukasyah! Kami berdua telah berdiri di depanmu! Kisoslah kami berdua! Jangan mengqisos Rasulallah SAW!.”
Rasulullah SAW bersabda, “Hai Aba Bakr dan Umar! Menyingkirlah! Allah telah tahu kedudukan dan pangkat kalian berdua!.”
Tak lama kemudian Ali bin Abi Thalib RA (عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ) berdiri untuk berkata, “Hai Ukasyah! Saya masih hidup di hadirat Rasulillah SAW! Saya takkan rela jika kau memukul Rasulillah SAW! Qisoslah pungung dan perutku dengan tanganmu! Pukullah seratus kali! Rasulullah SAW jangan kau qisos!.”
Nabi SAW perintah, “Hai Ali! Duduk! Allah azza wajalla telah tahu kedudukan dan niat baikmu!.”
Chasan dan Chusain berdiri untuk berkata, “Hai Ukasyah! Bukankah kau telah tahu bahwa kami berdua cucu Rasulillah SAW? Kau mengqisos kami hukumnya sama dengan mengqisos Rasulillah?.”
Nabi SAW perintah, “Berdirilah hai hiburan mataku! Allah takkan lupa pada peristiwa ini!.” Lalu bersabda, “Hai Ukasyah! Pukullah saya sekarang juga, jika kau ingin memukul!.”
Ucapan Ukasyah mengejutkan hadirin, “Ya Rasulallah, dulu Baginda memukul perut ketika saya telanjang dada.”
Hadirin makin terkejut saat menyaksikan Rasulallah SAW menyingkapkan busana agar perutnya tampak agar diqisos. Tangisan kaum Muslimiin meledak, “Betulkan Ukasyah ini berani memukul Rasulillah SAW di depan mata kami?!.”
Ukasyah terkejut ketika menyaksikan kulit perut Rasulillah SAW halus mulus seperti kain Qabathi (الْقَبَاطِيّ). Dia tak tahan dan bergerak cepat untuk memeluk dan mencium perut Rasulillah SAW. Dan berkata, “Fidaka abi waummi (فداك أبى وأمى/Tebusan Baginda ayah dan ibu saya). Siapakah yang tega mengqisos Baginda?.”
Nabi SAW bersabda, “Kau ini akan mengqisos apa akan memaafkan saya?!.”
Ukasyah menjawab, “Saya telah memaafkan Baginda dengan berharap Allah mengampuni saya di hari kiamat nanti.”
Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa ingin menyaksikan orang yang sekelas saya di surga nanti! Lihatlah orang tua ini!.”
Sontak hadirin berdiri untuk berebut mencium antara dua mata Ukasyah bin Michson (عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ). Dan berkata, “Kaulah yang lebih beruntung di sini! Kaulah yang lebih beruntung di sini! Meraih derajat surga yang tingg, sekelas Rasulillah SAW.”

HR Al-Maudhuat (الموضوعات - (ج 1 / ص 297). Thabarani juga meriwayatkan Hadits ini di dalam Al-Kabir.

[1] Kalimat penghormatan.


Kitab Hadits rujukan kuat setelah Al-Qur’an bagi kaum Muslimiin, adalah Kutubussittah: Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Enam kitab ini dikaji mulai awal hingga akhir di Pondok Pesantren Mulyo Abadi Mulungan Mlati Sleman Yogyakarta. Berkat pertolongan Allah, kitab-kitab tersebut bisa dikatamkan dengan cepat. Biasanya mulai dari Bukhari hingga Ibnu Majah hanya membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan atau kurang. Hanya saja Ibnu Majahnya tidak dikatamkan, hanya sampai jilid dua.
Bagi muballigh atau muballighot, kutubussittah yang ternyata merupakan lautan ilmu yang luar biasa; sangat penting, karena menjadi rujukan kuat di dalam menyampaikan dalil pada umat. Yang paling menonjol mengenai keshahihannya di antara kutubussitah adalah Bukhari lalu Muslim. Dua kitab tersebut yang paling shahih setelah Al-Qur’an.

Tugas Para Malaikat


Apakah alim besar KH Nurhasan pernah menjelaskan tugas-tugas para malaikat?. Para muridnya menjawab dengan bermacam-macam jawaban. Termasuk jawaban yang menarik, yang disampaikan oleh KH Anshor Firdaus: “Kalau beliau mau bercerita yang menarik mengenai apa-saja, sangat bisa. Karena bahasa Arab beliau sangat matang. Tetapi beliau saat itu lebih mementingkan pembinaan umat.”
Ustadz Abdul-Mannan berkata, “Dulu KH Nurhasan pernah berkata ‘Dul! Jika kajian yang saya sampaikan dideres dan dikaitkan dengan dalil lainnya, maka akan diketahi dengan jelas maksud dari yang kita kaji’.”
KH Abdul Adzohir (عبد الظاهر) pernah berkata, “Kalau mau menjelaskan isi kitab, setelah menyampaikan ilmu yang diterima dari guru, hendaklah menyebutkan rujukan atau nama kitab tersebut.”
Contoh, penjelasan Al-Qurthubi mengenai tugas para malaikat: تفسير القرطبي - (ج 19 / ص 194)
قال عبد الرحمن بن ساباط: تدبير أمر الدنيا إلى أربعة، جبريل وميكائيل وملك الموت واسمه عزرائيل وإسرافيل، فأما جبريل فموكل بالرياح والجنود، وأما ميكائيل فموكل بالقطر والنبات، وأما ملك الموت فموكل بقبض الانفس في البر والبحر، وأما إسرافيل فهو ينزل بالامر عليهم، وليس من الملائكة أقرب من إسرافيل، وبينه وبين العرش مسيرة خمسمائة عام.
Artinya:
Abdur Rohman bin Sabbath (عبد الرحمن بن ساباط) berkata, “Penyelesaian urusan dunia diserahkan pada empat malaikat: Jibril AS, Mikail AS, malaikat-maut bernama Izroil AS, dan malaikat Isrofil AS.
Adapun Jibril AS ditugaskan mengurusi angin dan pasukan. Adapun Mikail AS ditugaskan mengurusi hujan dan tanaman. Adapun malaikat-maut AS ditugaskan mencabut ruh makhluq di darat dan di laut. Adapun Isfofil AS yang memutuskan perkara atas mereka. Tidak ada malaikat yang lebih dekat (Arasy) daripada Isrofil AS. Di antara dia dan Arasy perjalanan 500 tahun.”

8 Syarat Pakaian Wanita Islam





Ulama LDII kembali menegaskan syarat-syarat pakaian wanita yang benar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah SAW dalam Al Quran dan Al Hadits.

1. Menutup semua anggota badan kecuali WAJAH dan TELAPAK TANGAN
2. Pakaian tidak dijadikan sebagai perhiasan yang menarik perhatian orang lain.

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ... سورة النور 31
Katakanlah pada kaum mukmin perempuan agar memejamkan pandangannya dan menjaga farjinya dan tidak menampakkan perhiasannya (aurat atau perhiasan) kecuali apa-apa yang tampak darinya dan supaya menutupkan kerudungnya atas dadanya...Surat An-Nur ayat 31

وَقَالَ الْأَعْمَشِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْها قَالَ: وَجْهُهَا وَكَفَّيْهَا وَالْخَاتَمُ. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَعَطَاءٍ وَعِكْرِمَةَ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ وَأَبِي الشَّعْثَاءِ وَالضَّحَّاكِ وَإِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ وَغَيْرِهِمْ نَحْوُ ذَلِكَ *تفسير ابن كثير
Al-’Amash meriwayatkan dari Said bin Jubair dari Ibni Abbas: dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali apa-apa yang nampak darinya, Ibnu Abas menegaskan: wajah dan telapak tangan dan cincinnya...[Tafsir Ibnu Katsir]

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (59)* سورة الأحزاب 59

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan perempuan mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


1173 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ مُوَرِّقٍ، عَنْ أَبِي الأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «المَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ» : «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ»
__________
[حكم الألباني] : صحيح
Rasulullah SAW bersabda,”Perempuan itu aurat, ketika keluar setan menganggap mulya”.

Keterangan: Seorang wanita ketika keluar di tempat umum, setan menghembuskan perasaan cantik dan berharga sehingga menarik laki-laki untuk menggoda.

4117 - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ نَافِعٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ أَبِي عُبَيْدٍ، أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ، أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ ذَكَرَ الْإِزَارَ، فَالْمَرْأَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «تُرْخِي شِبْرًا» ، قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ إِذًا يَنْكَشِفُ عَنْهَا، قَالَ: «فَذِرَاعًا لَا تَزِيدُ عَلَيْهِ» رواه ابوداود كتاب الباس (صحيح)
...sesungguhnya Uma Salamah istri Nabi bertanya pada Rasulillah SAW saat (Nabi) menasehatkan masalah pakaian, bagaimanakahpakaian wanita ya Rasulalloh? (Nabi) bersabda,”Turunkanlah satu jengkal”. Umu Salamah menjawab.”Kalau segitu masih terbuka dari nya” (Nabi) menambahkan kalau begitu tambahkan satu lengan, tidak akan menambah lagi kalian”.
[Riwayat Abu Dawud Kitabu Libas No. Hadist 4117

3. Pakaian tidak transparan

4104 - حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ كَعْبٍ الْأَنْطَاكِيُّ، وَمُؤَمَّلُ بْنُ الْفَضْلِ الْحَرَّانِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ بَشِيرٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ خَالِدٍ، قَالَ: يَعْقُوبُ ابْنُ دُرَيْكٍ: عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ، دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ، فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: «يَا أَسْمَاءُ، إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا» وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ رواه...رواه
__________
[حكم الألباني] : صحيح
Aisah Radhiyallohu anha meriwayatkan bahwa Asma’ binta Abu Bakar masuk melewati Rasulillahi SAW dan dan I (Asma’) mengenakan pakaian yang transparan maka Rasulullahi SAW berpaling darinya dan bersabda,”Wahai Asma’ sesungguhnya seorang perempuan ketika telah sampai haid (baligh) tidak pantas jika diperlihatkan darinya kecuali ini dan ini, dan nabi istarah pada wajah dan telapak tangannya.

4. Tidak ketat dan tidak menonjolkan bentuk tubuhnya.
21786 - حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ، عَنِ ابْنِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، أَنَّ أَبَاهُ أُسَامَةَ، قَالَ: كَسَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُبْطِيَّةً كَثِيفَةً كَانَتْ مِمَّا أَهْدَاهَا دِحْيَةُ الْكَلْبِيُّ، فَكَسَوْتُهَا امْرَأَتِي، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَا لَكَ لَمْ تَلْبَسِ الْقُبْطِيَّةَ؟ " قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَسَوْتُهَا امْرَأَتِي. فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مُرْهَا فَلْتَجْعَلْ تَحْتَهَا غِلَالَةً، إِنِّي أَخَافُ أَنْ تَصِفَ حَجْمَ عِظَامِهَا "* مسند أحمد
... sesungguhnya ayah Ibnu Asamah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memberinya hadiah pakaian “Kubtiyah” yang tebalyang merupakan hadiyah dari raja “Dihyah Al-Kalbi” maka ayah memakaikan pakaian tersebut pada istriku. Maka Rasulullah SAW bertanya kepadaku,”Mengapa engkau tidak memakai pakaian “Kubtiyah” ?” Aku menjawab,” Wahai Rasulullah, saya memakaikan pakain tersebut pada istriku. Maka Rasulullah SAW bersabda padaku: “Perintahlah istrimu untuk menambahkan di bawahnya rangkapan, sesungguhnya aku (Nabi) kuatir jika terlihat ukuran tulangnya (bentuk tubuhnya).”

5. Pakaian tidak berbau wangi atau parfum

مَا يُكْرَهُ لِلنِّسَاءِ مِنَ الطِّيبِ
5126 - أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مَسْعُودٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ وَهُوَ ابْنُ عِمَارَةَ، عَنْ غُنَيْمِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ»
__________
[حكم الألباني] حسن

“Rasulullah SAW berabda: Manakah perempuan yang memakai parfum maka lewat pada kaum agar mencium baunya maka ia sudah berzina”.
Keterangan: Seorang wanita yang sengaja memakai parfum dan bergaul dalam suatu kaum dengan niat sengaja memamerkan baunya maka hukumnya sama dengan dia berzina.

6. Tidak mengenakan pakaian pria

4098 - حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ، عَنْ سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ»
__________
[حكم الألباني] : صحيح
“Rasulullah SAW melaknati laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki.”

7. Tidak mengikuti tren pakaian orang kafir

4031 - حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتٍ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
__________
[حكم الألباني] : حسن صحيح
“Rasulullah SAW bersabda.”Barangsiapa berpakaian seperti suatu kaum maka ia masuk dalam golongan kaum tersebut”.


27 - (2077) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ يَحْيَى، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ، أَنَّ ابْنَ مَعْدَانَ، أَخْبَرَهُ، أَنَّ جُبَيْرَ بْنَ نُفَيْرٍ، أَخْبَرَهُ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَخْبَرَهُ، قَالَ: رَأَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا» ،
__________
[شرح محمد فؤاد عبد الباقي]
[ش (معصفرين) أي مصبوغين بعصفر والعصفر صبغ أصفر اللون]
Abdullah bin Amri bin A’sh meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melihat padaku berpakaian kuning-kuning, beliau bersabda bersabda: “Sesungguhnya ini bagian dari pakai orang kafir maka jangan memakainya”.

8. Tidak mengenakan pakaian untuk menjadi terkenal


3606 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَادَةَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْوَاسِطِيَّانِ، قَالَا: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ: أَنْبَأَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ مُهَاجِرٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ»
__________
Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa mengenakan pakaian dengan niat ingin terkenal maka Allah memberinya pakaian hina pada hari kiamat kemudian membara dalam neraka”.

Kisah Ibis Memperlihatkan dirinya kepada para Nabi




Imam Muslim meriwayatkan dari Aba Darda, dia berkata: Rosululloh berdiri sholat, maka aku mendengar beliau bersabda: "Aku mohon perlindungan kepada Allah dari(kejahatan) mu(Iblis). Kemudian beliau bersabda: "Aku melaknatmu dengan laknat Allah." Dan Nabi membentangkan tangannya 3x seakan-akan beliau menangkap sesuatu. Maka ketika selesai sholat, kami bertanya, "Wahai Rosululloh, sesungguhnya kami mendengar engkau berkata sesuatu dalam sholat yang sebelumnya kami belum pernah mendengarnya, dan kami melihat engkau membentangkan tanganmu". Nabi bersabda: "Sesungguhnya musuh Allah, Iblis datang dengan membawa obor untuk membakar wajahku, maka aku berkata: aku mohon perlindungan kepada Allah dari(kejahatan) mu (3x). Kemudian aku berkata: Aku melaknatimu dengan laknat Allah yang sempurna(3x). Maka dia tidak mundur, kemudian aku hendak menangkapnya. Demi Allah andaikata tidak ada do'a saudaraku Sulaiman, niscaya pagi-pagi Iblis dibelenggu dan dijadikan mainan oleh anak-anak Madinah". (HR. Muslim) 


Kisah Iblis memperlihatkan dirinya kepada Nabi Nuh 'alaihis salaam 
Ibnul Jauzi telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar dia berkata: ketika Nabi Nuh naik perahu, beliau melihat seorang tua yang tidak dikenalnya, maka berkata Nabi Nuh, "Apa yang menyebabkan kamu masuk?" Lalu Iblis berkata, "Aku masuk untuk memusibahi sahabat2mu, maka jadilah hati mereka bersamaku dan badan mereka bersamamu." Nabi Nuh berkata kepadanya, "Keluarlah kamu, hai musuh Allah!" Maka berkata Iblis, "Ada lima hal yang aku merusak dengannya terhadap manusia, dan aku akan menceritakan kepadamu 3 hal, dan aku tidak akan menceritakan kepadamu 2 hal." Maka Allah memberi wahyu kepada Nabi Nuh, "Sesungguhnya kamu tidak butuh yang 3 hal, perintahkanlah Iblis menceritakan yang 2 hal." Maka berkata Iblis, "Aku merusak manusia dengan dengki dan tamak, karena dengki aku dilaknat, dan aku dijadikan syetan yang terkutuk, dan karena tamak surga diberikan kepada Adam semuannya, aku dapatkan hajatku tetapi aku diusir dari surga." (Talbisu Iblis hal 24) 



Iblis memperlihatkan diri kepada Nabi Musa “alahis salaam 
Abu Bakar Al Qurosyi meriwayatkan dengan isnadnya sampai kepada Ibnu Umar, dia berkata: Iblis menemui Nabi Musa, lantas ia berkata, “Wahai Musa, engkau telah dipilih oleh Allah dengan membawa risalahNya dan Allah telah berbicara denganmu sunguh-sungguh, dan aku termasuk mahluk Allah yang berdosa, aku ingin bertaubat, maka tolonglah aku di sisi Tuhanmu Azza wa Jalla supaya Allah menerima taubatku!” Maka Nabi Musa berdo’a kepada Allah, maka dikatakan, “Engkau telah menyelesaikan kperluanmu.” Maka Nabi Musa menemui Iblis lantas berkata, “Kamu diperintah supaya sujud ke kuburan Nabi Adam dan Allah menerima taubatmu.” Maka Iblis sombong dan marah. Dia berkata, “Aku tidak mau sujud ketika dia hidup, apakah aku akan sujud kepadanya setelah ia mati?” Berkata Iblis, “Wahai Musa, karena engkau telah menolongku maka engkau punya hak, maka ingatlah kepadaku dalam 3 hal dan aku tidak merusak dalam 3 hal: 
1. Ingatlahketika engkau marah, sesungguhnya bisikanku itu ada dalam hatimu, dan mataku dalam dua matamu, dan aku mengalir darimu dalam tempat mengalirnya darah. 
2. Ingatlah kepadaku ketika engkau campuh perang karena aku akan dating kepada anak Adam ketika berdesak-desak dalam perang, aku mengingatkan kepada manusia tentang anaknya,istrinya, dan keluarganya hingga dia berpaling (lari dari perang). 
3. Jangalah kamu menemani dudul wanita yang bukan mahromnya, karena sesungguhnya aku adalah utusannya kepadamu dan utusannya kepadanya.” 
- Dengan adanya kisah ini, maka kita harus mengerti jika kita marah, ingatlah bahwa marah itu pengaruh/gangguan Iblis/Syetan. 
- Dalam sabilillah, kemudian kita selalu ingat keluarga, itu juga pengaruh/gangguan Iblis/Syetan. 
- Kalau kita nyepi atau berduaan dengan wanita yang bukan mahromnya, maka Iblis/Syetan mendorong membesarkan setrum bernuat pelanggaran. 
Al Qurosyi telah meriwayatkan dari Abdurrohman bin Zaid, dia berkata: ketika Nabi Musa duduk dalam sebagian majelisnya, tiba-tiba dating Iblis memakai burnus(baju luar yang menutupi kepala). Setelah dekat dengan Nabi Musa dia melepaskan burnusnya, kemudian meletakkannya dan bekata kepadanya, “Salam sejahtera buatmu, wahai Musa.” Maka Nabi Musa menjawab, “Salam sejahtera buatmu8, siapakah engkau?” Dia berkata, “Saya Iblis.” Nabi Musa berkata, Aku dating karena kedudukanmu di sisi Allah dan tempatmu disisiNya.” Berkata Nabi Musa, “Apa yang aku lihat sesuatu ada padamu?” Berkata Iblis, “Aku menyambar hati hamba-hamba Allah”. Berkata Nabi Musa, “Apa perbuatan manusia, yang denganya engkau menguasai kepadanya.” Iblis menjawab, “Jika seseorang ujub kepada dirinya, banyak amalnya dan lupa dosa-dosanya. Dan aku menakut-nakuti(memperingatkan tiga hal: 
1. Janganlah kamu menyepi dengan seorang perempuan yang tidak halal bagimu, karena sesungguhnya tidak nyepi seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya kecuali aku menemaninya selain teman-temanku sehingga aku merusaknya. 
2. Janganlah kamu berjanji suatu janji kecuali engkau memenuhinya, karena sesungguhnya tidak berjanji seseorang dengan suatu janji kecuali aku menutupi antara dia dengan memenuhi janjinya. 
3. Jangan sekali-kali kamu sodaqoh kecuali kamu harus meneruskannya, karena sesungguhnya tidk mengeluarkan seseorang akan sodaqoh lantas dia tidak meneruskannya kecuali aku menemaninya selain teman-temanku sehingga aku menutupi antara dia dengan mengeluarkan sodaqohnya.” 
Kemudian dia pergi smbil berkata, “Oh alangkah celakanya!” Berkata begitu tiga kali. Musa telah mengerti apa-apa yang dia akan member peringatan supaya hati-hati dengan anak cucu Adam. (Talbisu Iblis 300) 



Iblis/Syetan memperlihatkan diri kepada Nabi Yahya bin Zakaria “alaihis salaam. 
Abdullah bin Muhammad bin Ubad telah meriwayatkan dengan isnadya dari Wuhaib bin Ward, dia berkata: telah sampai kabar kepada kami bahwasannya Iblis yang jahat itu menampakkan diri kepada Nabi Yahya bin Zakaria, maka dia berkata, “Sesungguhnya aku akan menasehatimu.” Berkata Nabi Yahya “Bohong, kamu tidak menasehatiku tetapi kabarkanlah kepadaku tentang anak cucu Adam.” Berkata Iblis, “Bagiku anak cucu Adam itu ada tiga macam: 
1. Adapun macam yang pertama ialah yang paling berat dan paling sulit kami datangi merusaknya, kami betul-betul berusaha pol tetapi mereka melonggarkan waktu untuk Istigfar dan tobat, maka mereka merusak segala upaya kami, kami mengulangi, mereka juga mengulangi istigfar dan tobat. Kami tidak putus asa tetapi kami tidak mendapatkan hajat kami padahal kami telah bersusah payah. 
2. Macam kedua ialah mereka yang di tangan-tangan kami seperti bola di tangan anak-anak kalian, kami menyambar dengan cepat sekehendak kami, sungguh kami telah menguasai mereka. 
3. Adapun macam ketiga ialah orang-orang sepertimu yang ma’sum (terjaga dari kesalahan), maka kami tidak berkuasa sama sekali.” 
Berkata Nabi Yahya, “Apakah engkau juga tidak berkuasa atas saya?” Berkata Iblis, “Tidak, kecuali satu kali, yaitu kamu mendatangi makanan, kamu memakannya, kami tidak henti-hentinya menyenangkan kamu makan sehingga kamu makan di luar kebutuhanmu, maka malam itu kamu tidur nyenyak/pulas dan tidak sholat malam seperti biasanya.” Berkata Nabi Yahya kepadanya, “Tidak diragukan lagi, aku tidak akan kenyang karena makanan selamanya.” Berkata Iblis, “Sudah tentu aku tidak menasehati anak cucu Adam sesudahmu.” (Kitabul Aakaamul Marjan). 
Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdillah bin Khuaibik, ia berkata: Nabi Yahya bin Zakaria bertemu Iblis, beliau bertanya, “Hai Iblis, kabarkanlah kepadaku manusia yang paling kamu senangi dan manusia yang paling kamu benci. Berkata Iblis, “Manusia yang paling aku senangi adalah mu’min yang bakhil dan manusia yang paling aku benci dari mereka adalah orang fasiq yang dermawan.” Berkata Nabi Yahya, “Kenapa begitu?” Berkata Iblis, “Karena orang yang bakhil itu, bakhilnya mencukupi padaku (untuk menyesatkannya) dan orang fasiq yang dermawan itu, aku khawatir Allah memperlihatkan kedermawanannya lantas Allah menerimanya.” Kemudian Iblis pergi dan berkata, “Andai bukan karena engkau itu Yahya, maka aku tidak megkabarkannya. (Kitab Aakaamul Marjan).