Imam Muslim meriwayatkan dari Aba Darda, dia berkata: Rosululloh berdiri sholat, maka aku mendengar beliau bersabda: "Aku mohon perlindungan kepada Allah dari(kejahatan) mu(Iblis). Kemudian beliau bersabda: "Aku melaknatmu dengan laknat Allah." Dan Nabi membentangkan tangannya 3x seakan-akan beliau menangkap sesuatu. Maka ketika selesai sholat, kami bertanya, "Wahai Rosululloh, sesungguhnya kami mendengar engkau berkata sesuatu dalam sholat yang sebelumnya kami belum pernah mendengarnya, dan kami melihat engkau membentangkan tanganmu". Nabi bersabda: "Sesungguhnya musuh Allah, Iblis datang dengan membawa obor untuk membakar wajahku, maka aku berkata: aku mohon perlindungan kepada Allah dari(kejahatan) mu (3x). Kemudian aku berkata: Aku melaknatimu dengan laknat Allah yang sempurna(3x). Maka dia tidak mundur, kemudian aku hendak menangkapnya. Demi Allah andaikata tidak ada do'a saudaraku Sulaiman, niscaya pagi-pagi Iblis dibelenggu dan dijadikan mainan oleh anak-anak Madinah". (HR. Muslim)
Kisah Iblis memperlihatkan dirinya kepada Nabi Nuh 'alaihis salaam
Ibnul Jauzi telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar dia berkata: ketika Nabi Nuh naik perahu, beliau melihat seorang tua yang tidak dikenalnya, maka berkata Nabi Nuh, "Apa yang menyebabkan kamu masuk?" Lalu Iblis berkata, "Aku masuk untuk memusibahi sahabat2mu, maka jadilah hati mereka bersamaku dan badan mereka bersamamu." Nabi Nuh berkata kepadanya, "Keluarlah kamu, hai musuh Allah!" Maka berkata Iblis, "Ada lima hal yang aku merusak dengannya terhadap manusia, dan aku akan menceritakan kepadamu 3 hal, dan aku tidak akan menceritakan kepadamu 2 hal." Maka Allah memberi wahyu kepada Nabi Nuh, "Sesungguhnya kamu tidak butuh yang 3 hal, perintahkanlah Iblis menceritakan yang 2 hal." Maka berkata Iblis, "Aku merusak manusia dengan dengki dan tamak, karena dengki aku dilaknat, dan aku dijadikan syetan yang terkutuk, dan karena tamak surga diberikan kepada Adam semuannya, aku dapatkan hajatku tetapi aku diusir dari surga." (Talbisu Iblis hal 24)
Iblis memperlihatkan diri kepada Nabi Musa “alahis salaam
Abu Bakar Al Qurosyi meriwayatkan dengan isnadnya sampai kepada Ibnu Umar, dia berkata: Iblis menemui Nabi Musa, lantas ia berkata, “Wahai Musa, engkau telah dipilih oleh Allah dengan membawa risalahNya dan Allah telah berbicara denganmu sunguh-sungguh, dan aku termasuk mahluk Allah yang berdosa, aku ingin bertaubat, maka tolonglah aku di sisi Tuhanmu Azza wa Jalla supaya Allah menerima taubatku!” Maka Nabi Musa berdo’a kepada Allah, maka dikatakan, “Engkau telah menyelesaikan kperluanmu.” Maka Nabi Musa menemui Iblis lantas berkata, “Kamu diperintah supaya sujud ke kuburan Nabi Adam dan Allah menerima taubatmu.” Maka Iblis sombong dan marah. Dia berkata, “Aku tidak mau sujud ketika dia hidup, apakah aku akan sujud kepadanya setelah ia mati?” Berkata Iblis, “Wahai Musa, karena engkau telah menolongku maka engkau punya hak, maka ingatlah kepadaku dalam 3 hal dan aku tidak merusak dalam 3 hal:
1. Ingatlahketika engkau marah, sesungguhnya bisikanku itu ada dalam hatimu, dan mataku dalam dua matamu, dan aku mengalir darimu dalam tempat mengalirnya darah.
2. Ingatlah kepadaku ketika engkau campuh perang karena aku akan dating kepada anak Adam ketika berdesak-desak dalam perang, aku mengingatkan kepada manusia tentang anaknya,istrinya, dan keluarganya hingga dia berpaling (lari dari perang).
3. Jangalah kamu menemani dudul wanita yang bukan mahromnya, karena sesungguhnya aku adalah utusannya kepadamu dan utusannya kepadanya.”
- Dengan adanya kisah ini, maka kita harus mengerti jika kita marah, ingatlah bahwa marah itu pengaruh/gangguan Iblis/Syetan.
- Dalam sabilillah, kemudian kita selalu ingat keluarga, itu juga pengaruh/gangguan Iblis/Syetan.
- Kalau kita nyepi atau berduaan dengan wanita yang bukan mahromnya, maka Iblis/Syetan mendorong membesarkan setrum bernuat pelanggaran.
Al Qurosyi telah meriwayatkan dari Abdurrohman bin Zaid, dia berkata: ketika Nabi Musa duduk dalam sebagian majelisnya, tiba-tiba dating Iblis memakai burnus(baju luar yang menutupi kepala). Setelah dekat dengan Nabi Musa dia melepaskan burnusnya, kemudian meletakkannya dan bekata kepadanya, “Salam sejahtera buatmu, wahai Musa.” Maka Nabi Musa menjawab, “Salam sejahtera buatmu8, siapakah engkau?” Dia berkata, “Saya Iblis.” Nabi Musa berkata, Aku dating karena kedudukanmu di sisi Allah dan tempatmu disisiNya.” Berkata Nabi Musa, “Apa yang aku lihat sesuatu ada padamu?” Berkata Iblis, “Aku menyambar hati hamba-hamba Allah”. Berkata Nabi Musa, “Apa perbuatan manusia, yang denganya engkau menguasai kepadanya.” Iblis menjawab, “Jika seseorang ujub kepada dirinya, banyak amalnya dan lupa dosa-dosanya. Dan aku menakut-nakuti(memperingatkan tiga hal:
1. Janganlah kamu menyepi dengan seorang perempuan yang tidak halal bagimu, karena sesungguhnya tidak nyepi seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya kecuali aku menemaninya selain teman-temanku sehingga aku merusaknya.
2. Janganlah kamu berjanji suatu janji kecuali engkau memenuhinya, karena sesungguhnya tidak berjanji seseorang dengan suatu janji kecuali aku menutupi antara dia dengan memenuhi janjinya.
3. Jangan sekali-kali kamu sodaqoh kecuali kamu harus meneruskannya, karena sesungguhnya tidk mengeluarkan seseorang akan sodaqoh lantas dia tidak meneruskannya kecuali aku menemaninya selain teman-temanku sehingga aku menutupi antara dia dengan mengeluarkan sodaqohnya.”
Kemudian dia pergi smbil berkata, “Oh alangkah celakanya!” Berkata begitu tiga kali. Musa telah mengerti apa-apa yang dia akan member peringatan supaya hati-hati dengan anak cucu Adam. (Talbisu Iblis 300)
Iblis/Syetan memperlihatkan diri kepada Nabi Yahya bin Zakaria “alaihis salaam.
Abdullah bin Muhammad bin Ubad telah meriwayatkan dengan isnadya dari Wuhaib bin Ward, dia berkata: telah sampai kabar kepada kami bahwasannya Iblis yang jahat itu menampakkan diri kepada Nabi Yahya bin Zakaria, maka dia berkata, “Sesungguhnya aku akan menasehatimu.” Berkata Nabi Yahya “Bohong, kamu tidak menasehatiku tetapi kabarkanlah kepadaku tentang anak cucu Adam.” Berkata Iblis, “Bagiku anak cucu Adam itu ada tiga macam:
1. Adapun macam yang pertama ialah yang paling berat dan paling sulit kami datangi merusaknya, kami betul-betul berusaha pol tetapi mereka melonggarkan waktu untuk Istigfar dan tobat, maka mereka merusak segala upaya kami, kami mengulangi, mereka juga mengulangi istigfar dan tobat. Kami tidak putus asa tetapi kami tidak mendapatkan hajat kami padahal kami telah bersusah payah.
2. Macam kedua ialah mereka yang di tangan-tangan kami seperti bola di tangan anak-anak kalian, kami menyambar dengan cepat sekehendak kami, sungguh kami telah menguasai mereka.
3. Adapun macam ketiga ialah orang-orang sepertimu yang ma’sum (terjaga dari kesalahan), maka kami tidak berkuasa sama sekali.”
Berkata Nabi Yahya, “Apakah engkau juga tidak berkuasa atas saya?” Berkata Iblis, “Tidak, kecuali satu kali, yaitu kamu mendatangi makanan, kamu memakannya, kami tidak henti-hentinya menyenangkan kamu makan sehingga kamu makan di luar kebutuhanmu, maka malam itu kamu tidur nyenyak/pulas dan tidak sholat malam seperti biasanya.” Berkata Nabi Yahya kepadanya, “Tidak diragukan lagi, aku tidak akan kenyang karena makanan selamanya.” Berkata Iblis, “Sudah tentu aku tidak menasehati anak cucu Adam sesudahmu.” (Kitabul Aakaamul Marjan).
Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdillah bin Khuaibik, ia berkata: Nabi Yahya bin Zakaria bertemu Iblis, beliau bertanya, “Hai Iblis, kabarkanlah kepadaku manusia yang paling kamu senangi dan manusia yang paling kamu benci. Berkata Iblis, “Manusia yang paling aku senangi adalah mu’min yang bakhil dan manusia yang paling aku benci dari mereka adalah orang fasiq yang dermawan.” Berkata Nabi Yahya, “Kenapa begitu?” Berkata Iblis, “Karena orang yang bakhil itu, bakhilnya mencukupi padaku (untuk menyesatkannya) dan orang fasiq yang dermawan itu, aku khawatir Allah memperlihatkan kedermawanannya lantas Allah menerimanya.” Kemudian Iblis pergi dan berkata, “Andai bukan karena engkau itu Yahya, maka aku tidak megkabarkannya. (Kitab Aakaamul Marjan).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar