Minggu, 04 November 2012

PERLUNYA AL-QUR'AN DITURUNKAN


Sewaktu Al-Qur'an diturunkan pada empat belas abad yang lalu, di dunia sudah terdapat banyak agama dan banyak kitab yang dianggap suci oleh para pengikutnya. Di sekitar negara Arab terdapatlah orang-orang yang percaya kepada Kitab Perjanjian Lama dan Kitab perjanjian Baru. Banyak orang-orang Arab menjadi Nasrani atau condong ke arah agama Nasrani. Di antara orang-orang Arab itu ada juga yang memeluk agama Yahudi. Di antara mereka yang memeluk agama Yahudi adalah penduduk Madinah sendiri, seperti Ka'ab bin Asyraf seorang kepala suku di Madinah dan musuh Islam. Di Mekah sendiri di samping budak-budak yang beragama Nasrani terdapat juga orang-orang Mekah yang condong kepada agama Nasrani. Waraqah bin Naufal paman dari Khadijah, isteri pertama Nabi Muhammad s.a.w juga memeluk agama Nasrani. Ia faham bahasa Ibrani dan menterjemahkan Kitab Injil dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab. 

Di sebelah ujung lain negeri Arab, hiduplah orang-orang Persia yang juga mempercayai seorang Nabi dan sebuah kitab suci. Sekalipun kitab Zend Avesta telah mengalami perubahan-perubahab oleh tangan manusia, tetapi kitab itu masih dianggap suci oleh beratus ribu pengikutnya dan suatu negeri yang kuat menjadi pendukungnya. Adapun di India maka kitab Weda dipandang suci beribu-ribu tahun lamanya. Di situ ada juga kitab Gita dari Shri Khrisna dana ajaran Budha. Agama Kong Hu cu menguasai negeri Tiongkok, tetapi pengaruh Budha makin hari makin meluas di negeri itu. 
Dengan adanya kitab-kitab yang dipandang suci oleh pengikut-pengikutnya dan ajaran-ajaran itu, apakah dunia ini memerlukan Kitab Suci lagi? Inilah sebenarnya satu pertanyaan yang ada pada setiap orang yang mempelajari Al-Qur'an. 
Jawabannya bisa diberikan dalam beberapa bentuk. 

Pertama. apakah adanya berbagai agama itu, tidak menjadi alasan yang cukup untuk datangnya agama yang baru lagi untuk semua? 

Kedua. apakah akal manusia itu tidak mengalami proses evolusi sebagai mana badannya? Dan karena evolusi fisik itu akhirnya mencapai bentuk yang sempurna, apakah evolusi mental dan rohani itu tidak menuju ke arah kesempurnaan yang terakhir, yang sebenarnya merupaka tukuan daripada adanya manusia itu? 

Ketiga. apakah agama-agama yang dulu itu dianggap ajaran-ajaran yang dibawanya itu ajaran-ajaran terakhir? Apakah mereka tidak mengharapkan perkembangan kerohanian yang terus menerus? Apakah mereka tidak selalu memberitahukan kepada pengikut-pengikutnya tentang akan datangnya utusan terakhir yang akan menyatukan seluruh umat manusia dan membawa mereka kearah tujuan yang terakhir? 

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah merupakan jawaban yang mengharuskan supaya Al-Qur'an diturunkan, sekalipun sudah ada kitab-kitab yang dianggap suci oleh umat-umat yang terdahulu. 
Di bawah ini akan dicoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu satu demi satu. 
Bukankah perbedaan antara agama yang satu dengan yang lainnya itu sudah cukup menjadi alasan akan perlu datangnya ajaran yang baru lagi, sebagai agama terakhir? 


a. Nabi Isa a.s diutus untuk sesuatu kaum tertentu. 

Dalam Al-Qur'an surat (3) Ali Imran, ayat 49 dinyatakan: 
"Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil..." 

Hal ini dibuktikan juga oleh ayat-ayat dalam Injil: 
"Maka kata Daud kepada Abigail: Segala puji bagi Tuhan, Allah orang Israil, sebab disuruhkannya engkau mendapatkan aku pada hari ini. (I Samuel 25:32). Danagi titah baginda demikian : Segala puji bagi Tuhan, Allah orang Israil, yang mengaruniakan pada hari ini seorang yang duduk di atas takhta kerajaanku, sehingga mataku sendiri melihatnya. (I Raja-raja 1:48) 
Segala puji bagi Tuhan, Allah orang Israil, daripada kekal datang kepada kekal Maka hendaklah segenap orang banyak mengatakan. Amin. Segala puji bagi Tuhan! (I Kitab Tawareh 16:26). Maka kata baginda: Segala puji bagi Tuhan, Allah orang Israil, yang telah berfirman dengan mulutnya kepada ayahku Daud, dan yang sudah menyampaikan dia dengan tangannya, firmannya. (I Kitab Tawareh 6:4). 

Yesus juga menganggap dirinya sebagai Nabi untuk Bani Israil. Apabila ada orang lain mendekati dia maka ia mengusirnya. Dalam Matius XV :21-26, orang dapat membaca: 
"Maka Yesus keluarlah dari sana, serta berangkat ke jajahan Tsur dan Sidon. Maka Adalah seorang perempuan Kanani datang dari jajahan itu, serta berteriak, katanya: Ya Tuhan, ya anak Daud, kasihanikanlah hamba; karena anak hamba yang perempuan dirasuk setan terlalu sangat. 
Tetapisepatah katapun tiada dijawab oleh Yesus kepada perempuan itu. Maka datanglah muridnya meminta kepadanya, serta berkata: Suruhlah perempuan itu pergi, karena ia berteriak-eriak di belakang kita. 
Maka jawab Yesus, katanya: Tidaklah aku disuruhkan kepada yang lain hanya kepada segala domba yang sesat dari antara Bani Israil. 
Maka datanglah perempuan itu sujud menyembah dia, katanya: Ya Tuhan, tolonglah hamba! 
Tetapi jawab Yesus, katanya: Tiada patut diambil roh dari anak-anak lalu menyampaikan kepada anjing. 

b. Kitab Weda adalah Kitab untuk sesuatu golongan. 

Di antara pengikutpengikut Weda, maka membaca kitab Weda itu menjadi hak yang khusus bagi kasta yang tinggi saja. Demikianlah, maka Gotama Risyi berkata: 
Apabila orang sudra kebetulan mendengarkan kitab Weda dibaca, maka adalah kewajiban raja untuk mengecor cor-coran timah dan malam dalam kupingnya; apabila seorang sudra membaca mantra-mantra Weda maka raja harus memotong lidahnya, dan apabila ia berusaha untuk membaca Weda, maka raja memotong badanya. (Gotama Smarti: 12) 

Agama Kong Hu Cu dan agama Zoroaster adalah juga agama-agama nasional. Kedua agama itu tidak berusaha untuk mengajarkan ajaran-ajarannya ke seluruh dunia, juga mereka tidak berusaha untuk mengembangkannya dalam daerah yang luas. Orang Hindu menganggap negeri India sebagai negeri pilihan bagi Tuhannya, demikian juga agama Kong Hu Cu menganggap negeri Tiongkok satu-satunya kerajaan Tuhan. Dalam hal ini, ada dua jalan untuk menyelesaikan pertentangan antara satu agama dengan agama lainnya itu, yaitu bahwa orang harus percaya bahwa Tuhan itu banyak, atau Tuhan itu Esa. Dan kalau orang percaya bahwa Tuhan itu Esa, maka orang harus mengganti agama yang berbeda-beda itu dengan ajaran yang bisa meliputi seluruhnya. 


c. Tuhan adalah Esa 

Dunia kini telah maju. Orang tidak perlu berusaha untuk membuktikan bahwa apabila dunia ini mempunyai pencipta, maka Ia harus Pencipta Yang Esa. Tuhan dari orang-orang Israil, Tuhan dari orang-orang Hindu, Tuhan dari negeri Tiongkok dan Tuhan dari negeri Iran adalah tidak berbeda. Juga Tuhan dari negeri Arab, Afganistan dan Eropa adalah tidak berlainan. Juga Tuhan dari orang Mongol dan Tuhan orang-orang Semit adalah tidak berbeda. Tuhan adalah Esa, dan hukum yang mengatur dunia ini juga satu hukum, dan sistim yang menghubungkan satu bagian dari dunia ini dengan lainnya adalah juga satu sistim. Ilmu pengetahuan memberikan keyakinan, bahwa semua perubahan-perubahan alami dan mekanis di mana saja, adalah pernyataan hukum yang sama. Dunia ini hanya mempunyai satu prinsip: ialah GERAK, sebagaimana peryataan ahli-ahli filsafat materialis. Atau dunia ini hanya mempunyai satu pencipta. Apabila demikian halnya, maka pernyataan seperti Tuhan pada orang-orang Israil, Tuhan orang-orang Arab, Tuhan orang-orang Hindu adalah tidak berarti sama sekali. Tetapi apabila Tuhan itu satu, mengapa dunia ini mempunyai banyak agama? Apakah agama-agama itu hasil pemikiran otak manusia? Apakah karena itu, maka tiap-tiap bangsa dan tiap-tiap kelompok umat manusia menyembah Tuhannya sendiri? Apabila agama-agama itu bukan merupakan hasil pemikiran manusia, mengapa ada perbedaan antara satu agama dengan agama lain? Apabila dulu ada alasan tentang adanya perbedaan ini, apakah dewasa ini masih tepat bahwa perbedaan-perbedaan itu terus berlangsung? 


d. Agama adalah bukan hasil pemikiran umat manusia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar